Aku Ingin Pulang

Aku rebah ditengah padang
dengan rerumputan panjang
penuh dengan ilalang.
Perlahan, surya menghilang.

Aku tak menghitung
berapa waktu yang
diperlukan.
untuk melupakan.

Mengapa tidak, rasanya indah
waktu kehilangan
sepotong senja.
Waktu melepas lelah.

Setiap Pukul Lima Pagi

Lima pagi
ada yang menaruh matahari
lebih dulu,
diatas lemari penuh debu.

Lima pagi
sudah seperti katamu.
Aku masih terjaga,
berjaga-jaga siapa tau kau tiba.

Kuambil secangkir waktu
menaruhnya tepat diruang tamu
agar aku selalu tahu,
kau tak akan datang tepat waktu.

Pukul lima pintamu,
agar kubukakan pintu
tapi aku,
lupa. Apakah kita masih seperti itu.

Jatinangor, 20 Juli

Bonjour* (Balasan)

II

Msuim panas tak sabar mengucap salamnya
Sayang, semi belum juga mau pulang ke alamnya.
Paris masih dingin dan berangin kadang
Kota ini memang kota cinta,
penuh kejutan dan tidak bisa ditebak
bahkan cuacapun sulit diperkirakan
semenit hujan, semenit kemudian matahari mengucap salam

langit diluar masih terang seperti siang
padahal sudah jam 7 malam
dan seperti yang ingin kau dengar,
saya baik-baik saja

perjalanan menuntun saya,
pengalaman mengajari saya
bertemu dengan berbagai orang membuat saya memaknai
hidup lebih dalam
sampai pada akhirnya, saya menemukan diri saya.

Salam dari Paris untukmu yang membaca,
Dan untuk Indonesiaku juga,
Bagaimana kabar kalian?

Paris, 15-06-14

Bonjour*

I

Bandung, pukul dua belas
lewat lima belas.
Tidak begitu sepi
karna kata masih belum mau berkemas.

Pukul berapa dikotamu?
Bagaimana cuaca disana?
Itu bukan hal utama.
Semoga kabar baik yang kubaca.


Terakhir yang dapat kuingat berbagi petang di beranda ruang umum disekolahan atau hampir berbagi matahari terbit dirumahnya bersama nyamuk-nyamuk yang hinggap di sela-sela nyanyiannya. "can't you feel the love" lagu ciptaannya yang kali pertama kudengar. Kalau tak salah chordnya berawal dari C- lalu G lalu aku lupa harus sejauh mana menghafalkan sebagian dari kawan yang begitu sangat berkenan.

Aku malas menghitung jarak kotaku---kotamu.

Bandung, 2014

Kartu Pos Bergambar Gadis dan Lelaki Kecil

   Tak terasa telah kuhabiskan
Berjam-jam di ruang hampa.
Sehabis kutenggak kopi terakhir di meja
dan beranjak menuju entah

   bau kretek di sela jemari,
aroma kopi melekat erat di mantel tipis
dan embun di kaca jendela depan
dua tiga kali harus aku bersihkan sesekali.

   Sampailah aku di La Côte d'Azur
Pantai yang paling indah disini.
Tidak kuhitung waktu tempuh
sebab aku sibuk memikirkan balasan untuk suratmu.

   Petang sudah menjelang
bulan sedikit mengintip
matahari sudah berkemas
kuhitung semesta yang meredup.

   Dua tiga kalimat kutulis
Untuk membalas suratmu
Berulang kali
                       dan kuhapus kembali.

mon amour pour vous

bagaimana kabar dewa dan bintang ? aku selalu merindukan mereka. Besok aku akan berkemas, menuju Jerman. Setelah musim panas berakhir, aku sudah ada di dalam selimut dan memlukmu.

Blues Hari Itu

Hari itu kusematkan sepucuk kembang melati di telingamu sebelum kepergianku lusa nanti. Esok pasti aku akan sangat sibuk mengurus segala keperluan dan berpamitan kepada saudara serta keluargaku dan mungkin sulit untuk bertemu denganmu. Rabu pagi di ujung pintu Gambir, enam lewat tiga puluh pagi keretaku akan berangkat, lima menit sebelum keberangkatan aku menitipkan salam perpisahan pada pesan singat di telpon genggam karena mungkin kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu kemarin dan tubuhmu masih lelah, lelap tidurmu. Aku baik-baik saja tidak sempat memeluk atau bahkan hanya melihat matamu hari itu.

Bertahun sudah aku hidup dikota ini, dengna segala yang kuharapkan perlahan tercapai satu-persatu. Senja dikotaku jingga membiru, dimejaku baru saja tersaji secangkir kopi, dibalik kaca jendela aku melamun sambil menatap langit itu. Nur, dalam lamunanku tadi aku teringat namamu. Nur, aku jadi tak lagi peduli bagaimana harum kopi ini, aku lebih menginggat bau melati yang waktu itu kupetik dan kusematkan ditelingamu. Aku memejam sejenak waktu barista itu mematikan musik blues yang mengantar senjaku tadi untuk mendengarkan suara adzan yang terdengar sayup-sayup. Pada doaku setelah usai adzan tadi, kusisipkan namamu diantaranya. Mungkin sebentar lagi air mata ini tak lagi dapat terbendung, meski selalu kamu bilang padaku kalau secangkir kopi adalah penawar luka dan duka.

Mungkin memang aku sudah terlalu bahagia menuai kasih denganmu, Nur. Sekarang adalah doaku yang selanjutnya; tetapi dengan senyum manis tanpa ada lagi yang teriris. Di ruang kecil kedai kopi itu, aku berbagi tanda dengan-Nya, seperti kamu berbagi tanda penawar luka dengan secangkir kopi padaku.

"Nur, engkaulah subuh
Penanda sujud pertama
Dalam barisan wajib perintah Allah.
Nur, luka dalam sebaris doa.

Sunyi bathinku pada bulan pertama.
Beruntung, kamu mengingatkanku pada cawa penawar luka
bertahun silam.
Kini, riuh bathinku pada sujud pertama."

                                                                 -------------------------

Pada buku catatannya ia tinggalkan empat belas halaman yang penuh luka. Ditiap sudutnya, ditiap sendi-nya. Ada akhir yang menanyakan tentang kepulangannya. Bukan tak sempat untuk membalas atau sekedar ia buka pesan singkat itu. Tetapi, empat belas halaman dalam buku catatannya tentang awan, langit, dan manusia lupa ia beri cahaya.

Anggun

Aku sedang mempelajari siklus
bukan dari asing segala rumus
tetapi menerka
rindu yang menjadi aksara.

Sampai di bulan keenam.
Fajar merekah
mimpiku semalam
Kita berkasih lalu menikah

Ranum dadamu di balut kebaya
aroma tubuhmu mengingatkanku kepada
aku yang selalu tanpa daya
Kala itu kita bahagia.

Diluar hujan dan sisa kita berdua
berdoa kita.
Diruangan itu kamu menghujani cium di pipiku
lalu berkahir di bibirku.

Aku sedang mempelajari siklus
Bukan dari asing segala rumus
tetapi menerka
rindu yang menjadi aksara.

Juni, 2014