Jelang Pulang Pukul 15

Baru saja aku tiba...

Dedaunan yang melambai
Ranting pepohonan yang goyah
Angin yang bertiup kencang
Sekali lagi, kereta menuju rumah terlewat.

Kalau saja aku tiba lebih cepat,
satu menit saja,
Tiada lagi. Sendiri. Aku berdiam
menghitung detak jarum jam

Dari peron keempat aku berjalan
suara peluit, silap arah tujuan
keretamu jauh sisa asap
jauh, jauh, senyap





Tertidur Pulas Tanpa Alas

Masih ingat catatan pada 1 Januari 1990?

Masih ingat pada samping yang aku berikan padamu sebelum dingin menusuk malam kita?

Masih ingat pada Jakarta yang penuh dengan penyair, puisi, kasih sayang dan nyanyian bocah-bocah waktu hujan reda?

Masih ingat pada bunga yang mekar saat langit penuh dengan riasan bunga api?

Aku pun demikian.
Akan selalu teringat wajahmu saat membaca perlahan kalimat-kalimat yang sengaja kuberi tanda wara biru dan ungu.
Seperti aku, yang selalu ingin tahu apa yang ada didalam kecupan malam itu.

Jejak Laut

28 Desember 1989

Aku pinta sekali lagi padamu, jangan pernah duduk menunggu diruang tamu sambil mengira-ngira ada yang mengetuk pintu, apalagi dengan sengaja berdiri tepat depan jendela rumahmu. Entah kapan aku akan pulang, sayang.

Masih ada dua kawanku yang belum ditemukan sampai hari ini. Aku sangat ketakutan mereka tidak akan kembali. Malam tadi hujan begitu deras, angin berhembus begitu kencang sampai sempat menerbangkan beberapa dokumen diatas meja sampai tenda kamipun roboh dibuatnya. Pagi ini kami beserta para warga akan melakukan pencarian. Sayang, aku begitu takut mereka tidak akan kembali hari ini. Seharian aku belum sempat memejamkan mata, bahkan hanya untuk merebahkan tubuh. Aku begitu khawatir, beberapa pil penenang dan vitamin sudah kutelan, tapi tetap saja kekhawatiranku tidak juga mereda. Sayang, aku begitu takut mereka tidak akan kembali. Sore ini pencarian terpaksa dihentikan karena cuaca buruk dan belum ada tanda-tanda dari keduanya. Kondisiku mulai menurun, aku terserang demam. Tapi tenang, ini pasti hanya beberapa saat saja rasanya. Hari berikutnya aku tidak ikut melakukan pencarian, aku hanya mampu berdoa memohon mereka ditemukan, sayang aku baik-baik saja.

1 Januari 1990

Ini kabar terakhirku. Aku segera pulang.
Mereka telah ditemukan dipesisir pantai yang jaraknya tidak begitu jauh dari perkemahan tempat kami menginap. Syukurlah, mereka masih dapat bertahan karena bekal yang cukup. Keduanya adalah sepasang kekasih, mereka enggan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Doaku dikabulkan olehNya, mungkin karena aku begitu dekat dengnaNya kali ini. Dekat, begitu dekat.
Sayang, aku akan pulang.
Saat anak laki-laki dirahimmu lahir pasti bahagia ia karena tahu mempunyai seorang ibu yang beigut cantik. Pasti dia akan lebih mirip kamu, yang begitu menggemaskan. Tidak ada yang kurang lagi dari hidupku saat ia lahir, pasti. Aku menitipkan surat ini kepada kawanku yang akan mengantarkannya padamu, beserta jasadku yang tak kurang satu apapun.

Sambil Mandi



Cerita ini berawal ketika aku sedang mandi sesudah bangun pagi lalu menyalakan televisi. Dari kaca buram persegi yang lebarnya kurang lebih tiga puluh centimeter dan tinggi kurang lebih dua puluh centimeter dapat kulihat anak bocah sedang memakai sepatunya. Seragam yang dikenakan berwarna coklat muda sepadan dengan celananya yang berwarna coklat tua, hari ini pasti Sabtu. Tidak lupa dengan beragam ibu-ibu yang mondar-mandir menuju pasar atau mau pulang, mungkin pergi keentah yang tak kutahu. Biasanya membawa keranjang atau menenteng keresek-keresek yang penuh dengan belanjaan, ada juga yang tak penuh. Lalu ada koran akhir pekan yang terbuka penuh diteras rumah atau juga didalam yang tirainya tidak penuh menutupi kaca jendela depan rumah. Dapat kulihat ruang tamu atau ruang makan tempat koran itu terbuka.

Ketika aku sedang mandi mengintip dari kaca buram persegi yang lebarnya kurang lebih tiga puluh centimeter dan tingginya kurang lebih dua puluh centimeter, setelah bangun pagi lalu menyalakan televisi.

Kota Dalam Kemasan



Ini yang terjadi kalau kita begitu jauh.

Semua ini hanya tentang jarak dan tak lebih. Tentang jarak. Sebentar lagi sebatang rokok sisa udara dan seteguk lagi kopi dalam kemasan yang lima menit lalu kubeli di toko kelontong seberang habis tanpa tersisa didalamnya. Terasa begitu lama disini, dianak tangga yang entah keberapa kalau dihitung dari bawah hingga atas. Hari ini seperti hari- hari kemarin, hujan dari pagi sampai sore barulah berhenti, kadang hanya reda sesekali. Lalu sisa jalan menggenang, beserta klakson kendaraan sebagai latar suaranya. Iya, selalu begitu tiap sore. Sekarang dihadapanku ada tiga laku-laki tua yang duduk diantara satu meja, entah apa yang mereka bicarakan, mungkin tentang bisnis mereka yang tak mau kutahu lebih lanjut apa dan mengapa. Tepat disamping mereka, dimeja sebelah tepatnya yang baru saja salah satu penghuninya meminta salah satu kursi yang melingkar diantara meja yang kutempati. Satu keluarga besar, seorang ibu muda, ayah, lalu seorang ibu yang umurnya lebih tua, seorang nenek, dan dua anak laki-laki yang sedang mengunyah snack mereka. Bahagia bukan? saat senja duduk manis dengan pemandangan macet dan riuhnya kota. Dengan klakson kendaraan sebagai latarnya. Aku jadi tergiur memesan satu mangkuk bubur seperti yang sedang mereka santap.



Sepuluh meja berbentuk lingkaran hampir semua terisi, tiga masih sepi, satu dihindari karena basah kuyup sisa hujan. Ia tak berpayung seperti lainnya. 

Sial, kopiku sudah mau habis, sementara langit masih memar tak terlihat emas, oranye atau nila seperti warna senja seperti yang biasa kubaca dalam larik-larik puisi indah tentang, ya senja. Ditempat-tempat lain atau kursi-kursi yang nanti akan aku tempati sambil mengamati satu dan yang lainnya, yang hadir dalam senja kala kepulangan manusia-manusia yang entah rindu akan rumah atau sekedar melepas lelah dikursi dan meninggalkan remah-remah kegundahan diatas mejanya.

Aster

Aster

Sebelum petang
antar aku pulang
dan sebelum sepi
karena musim semi

Di kota,

Perayaan demi perayaan.
dengan kembang api,
dan konferti berhamburan

Pada tiap tubuh
aster tumbuh
gugur perlahan
hingga berhamburan

Aster,
antar aku menyusuri
sungai paling sepi
tempat sajak-sajak mati

Jatinangor -- Desember

Tahun Sepatu

Lalu...
merubah kita jadi masa lalu
melipat kembang sepatu
tersimpan rapih dalam saku.

Bunga pujangga,
syair dalam buku tua
di beranda
lelaku tua berada

dibalik jendela
anak laki-laki dengan piyama
bernyanyi rayuan pulau kelapa,
menggambar manis dengan embun di kaca.

Sementara waktu
membawaku
kedalam saku
melipatku bagai kembang sepatu.

Jatinangor, 13 12 14