Kota Dalam Kemasan



Ini yang terjadi kalau kita begitu jauh.

Semua ini hanya tentang jarak dan tak lebih. Tentang jarak. Sebentar lagi sebatang rokok sisa udara dan seteguk lagi kopi dalam kemasan yang lima menit lalu kubeli di toko kelontong seberang habis tanpa tersisa didalamnya. Terasa begitu lama disini, dianak tangga yang entah keberapa kalau dihitung dari bawah hingga atas. Hari ini seperti hari- hari kemarin, hujan dari pagi sampai sore barulah berhenti, kadang hanya reda sesekali. Lalu sisa jalan menggenang, beserta klakson kendaraan sebagai latar suaranya. Iya, selalu begitu tiap sore. Sekarang dihadapanku ada tiga laku-laki tua yang duduk diantara satu meja, entah apa yang mereka bicarakan, mungkin tentang bisnis mereka yang tak mau kutahu lebih lanjut apa dan mengapa. Tepat disamping mereka, dimeja sebelah tepatnya yang baru saja salah satu penghuninya meminta salah satu kursi yang melingkar diantara meja yang kutempati. Satu keluarga besar, seorang ibu muda, ayah, lalu seorang ibu yang umurnya lebih tua, seorang nenek, dan dua anak laki-laki yang sedang mengunyah snack mereka. Bahagia bukan? saat senja duduk manis dengan pemandangan macet dan riuhnya kota. Dengan klakson kendaraan sebagai latarnya. Aku jadi tergiur memesan satu mangkuk bubur seperti yang sedang mereka santap.



Sepuluh meja berbentuk lingkaran hampir semua terisi, tiga masih sepi, satu dihindari karena basah kuyup sisa hujan. Ia tak berpayung seperti lainnya. 

Sial, kopiku sudah mau habis, sementara langit masih memar tak terlihat emas, oranye atau nila seperti warna senja seperti yang biasa kubaca dalam larik-larik puisi indah tentang, ya senja. Ditempat-tempat lain atau kursi-kursi yang nanti akan aku tempati sambil mengamati satu dan yang lainnya, yang hadir dalam senja kala kepulangan manusia-manusia yang entah rindu akan rumah atau sekedar melepas lelah dikursi dan meninggalkan remah-remah kegundahan diatas mejanya.

Aster

Aster

Sebelum petang
antar aku pulang
dan sebelum sepi
karena musim semi

Di kota,

Perayaan demi perayaan.
dengan kembang api,
dan konferti berhamburan

Pada tiap tubuh
aster tumbuh
gugur perlahan
hingga berhamburan

Aster,
antar aku menyusuri
sungai paling sepi
tempat sajak-sajak mati

Jatinangor -- Desember

Tahun Sepatu

Lalu...
merubah kita jadi masa lalu
melipat kembang sepatu
tersimpan rapih dalam saku.

Bunga pujangga,
syair dalam buku tua
di beranda
lelaku tua berada

dibalik jendela
anak laki-laki dengan piyama
bernyanyi rayuan pulau kelapa,
menggambar manis dengan embun di kaca.

Sementara waktu
membawaku
kedalam saku
melipatku bagai kembang sepatu.

Jatinangor, 13 12 14

Pada Suatu Hari

belum juga terselesaikan...


Tapi, aku sudah berkemas, segala keperluan, perbekalan lengkap dan tersusun rapih dalam koper. Kita ingin sekali berpergian atau sekedar berteduh bukan?
Tapi kamu lupa, kita belum siap untuk berangkat bukan?, kamu belum siap, entah sedang merapikan pakaian atau lupa menunggu bekal matang di dapur. Aku tak akan suka, bila bekal itu tertinggal begitu saja. 
Sebaiknya kamu kembali ke dapur, menyiapkannya dan sebentar merapihkan perkakas dapur. 
Aku, akan selalu menunggu di ruang tamu, sambil memainkan debu di meja, menuliskan namamu.
Bila kamu sudah siap, biar kurapihkan dulu rambutmu. Biar kusingkap perlahan, kuselipkan yang menjuntai ditelingamu. Menepuk kepalamu, sayang, memegang tanganmu erat.

Masihkan kau ingin berpergian denganku? selamanya?


Jatinangor 1009

Sonde

Kita pulang, dua minggu saja
dikampung sayang, kita berdua
dikota, kita tinggal baris kata,
caci maki, kalimat luka dalam laci.

Kamu lupa bawa samping.
Kalau tidur nanti,
tak datang bulu atau rajut
kita saling peluk, merengkuh hangat.

Kalau pagi kamu seduh kopi
di gelas kaca
kamu dapati yang terbang dari gelas
pelukku, ciumku, hatiku.

Sonde.

Jatinangor 10 09 14

Batas Lelah

   Tetes demi tetes embun pagi ini membasahi jendela kamarku, dedaunan yang basah dan begitu indah. Begitu bangun kupijakkan kaki ke lantai, begitu dingin pagi ini meski tanpa pendingin ruangan. Sambil menahan kantuk kusiapkan sarapanku, secangkir kopi hitam dan makanan siap saji yang kuhangatkan kembali. Menikmati sarapan di teras rumah ialah salah satu hal terindah, dapat sekaligus menghirup udara pagi yang begitu segar, yang perlahan mengingatkanku padaNya. Inilah sebab selalu kusiasati waktu agar dapat mengucap segala syukur atas nikmat yang telah Dia berikan padaku.

   Sembari menikmati kopi kesukaanku, kubaca koran pagi ini. Banyak isinya yang membeberkan rahasia para selebriti, ataupun gambaran tentang gejolak pemerintahan negri ini. Tak sampai tamat, ku tutup koran itu, kunyalakan sebatang rokok kretek dan kutermangu sejenak. Memperhatikan sepasang kupu-kupu yang terbang di udara, tak kuhiraukan mana jantan mana betina. Tapi kusuka, sangat suka.
Sayap-sayap yang menyapu udara, bebas terbang berdua mencari madu di mekar bunga-bunga. Apa cinta seindah itu? tanyaku padaNya.
Tatapanku mulai tertuju pada secangkir kopi, kuseruput perlahan. Rasanya pahit, tapi kusuka, kopinya panas, tapi itu salah satu cara menikmatinya. Begitukah pula cara menikmati cinta?. Mengapa aku selalu bertanya tentang hal itu? padahal cinta datang selalu tanpa alasan pada akhirnya kata orang-orang.

   Dedaunan kering yang rapuh mulai berjatuhan, mungkin karena tak sanggup lagi menampun tetes embun yang jatuh di atasnya atau tak kuat lagi menahan terpaan angin?. Kembali kubertanya-tanya, apakah cinta dapat serapuh itu? ketika kita sudah tak sanggup lagi mendapat segala keluh kesah, dan cinta akan gugur begitu saja?. Hmm, kopi pahit ini membuat aku semakin yakin, bahwa aku sedang berada di waktu pagi. Hidup ini begitu cepat kurasa, tak sempat aku menginggat tiap luka dan duka tentang hal yang biasa disebut cinta. Pada penghujung pagi tak lupa kuucap segala doa untukmu, agar pagimu seindah pagiku. Ditemani secangkir kopi kesukaanmu, memandang indah sepasang kupu-kupu, tetes embun dari dedaunan yang berjatuhan di halaman rumahmu, juga segala dukamu adalah pengingat ucap syukurmu padaNya.

Sihir

Sepucuk melati berwarna coklat
berserak di kursi taman
depan halaman
dan kabar yang tak pernah sempat.

Tetapi kau sihir
Slalu dapat merubahku sepanjang waktu.
Kau juga terlalu mahir
merajut kata dan menjadikannya air mata.

Bila hujan reda, sekali lagi
biar bunga asoka atau sepatu
yang jatuh memenunhi.
dan tak kupanggili namamu berulang kali.


Jatinangor, 01 09 14