Pada Suatu Hari

belum juga terselesaikan...


Tapi, aku sudah berkemas, segala keperluan, perbekalan lengkap dan tersusun rapih dalam koper. Kita ingin sekali berpergian atau sekedar berteduh bukan?
Tapi kamu lupa, kita belum siap untuk berangkat bukan?, kamu belum siap, entah sedang merapikan pakaian atau lupa menunggu bekal matang di dapur. Aku tak akan suka, bila bekal itu tertinggal begitu saja. 
Sebaiknya kamu kembali ke dapur, menyiapkannya dan sebentar merapihkan perkakas dapur. 
Aku, akan selalu menunggu di ruang tamu, sambil memainkan debu di meja, menuliskan namamu.
Bila kamu sudah siap, biar kurapihkan dulu rambutmu. Biar kusingkap perlahan, kuselipkan yang menjuntai ditelingamu. Menepuk kepalamu, sayang, memegang tanganmu erat.

Masihkan kau ingin berpergian denganku? selamanya?


Jatinangor 1009

Sonde

Kita pulang, dua minggu saja
dikampung sayang, kita berdua
dikota, kita tinggal baris kata,
caci maki, kalimat luka dalam laci.

Kamu lupa bawa samping.
Kalau tidur nanti,
tak datang bulu atau rajut
kita saling peluk, merengkuh hangat.

Kalau pagi kamu seduh kopi
di gelas kaca
kamu dapati yang terbang dari gelas
pelukku, ciumku, hatiku.

Sonde.

Jatinangor 10 09 14

Batas Lelah

   Tetes demi tetes embun pagi ini membasahi jendela kamarku, dedaunan yang basah dan begitu indah. Begitu bangun kupijakkan kaki ke lantai, begitu dingin pagi ini meski tanpa pendingin ruangan. Sambil menahan kantuk kusiapkan sarapanku, secangkir kopi hitam dan makanan siap saji yang kuhangatkan kembali. Menikmati sarapan di teras rumah ialah salah satu hal terindah, dapat sekaligus menghirup udara pagi yang begitu segar, yang perlahan mengingatkanku padaNya. Inilah sebab selalu kusiasati waktu agar dapat mengucap segala syukur atas nikmat yang telah Dia berikan padaku.

   Sembari menikmati kopi kesukaanku, kubaca koran pagi ini. Banyak isinya yang membeberkan rahasia para selebriti, ataupun gambaran tentang gejolak pemerintahan negri ini. Tak sampai tamat, ku tutup koran itu, kunyalakan sebatang rokok kretek dan kutermangu sejenak. Memperhatikan sepasang kupu-kupu yang terbang di udara, tak kuhiraukan mana jantan mana betina. Tapi kusuka, sangat suka.
Sayap-sayap yang menyapu udara, bebas terbang berdua mencari madu di mekar bunga-bunga. Apa cinta seindah itu? tanyaku padaNya.
Tatapanku mulai tertuju pada secangkir kopi, kuseruput perlahan. Rasanya pahit, tapi kusuka, kopinya panas, tapi itu salah satu cara menikmatinya. Begitukah pula cara menikmati cinta?. Mengapa aku selalu bertanya tentang hal itu? padahal cinta datang selalu tanpa alasan pada akhirnya kata orang-orang.

   Dedaunan kering yang rapuh mulai berjatuhan, mungkin karena tak sanggup lagi menampun tetes embun yang jatuh di atasnya atau tak kuat lagi menahan terpaan angin?. Kembali kubertanya-tanya, apakah cinta dapat serapuh itu? ketika kita sudah tak sanggup lagi mendapat segala keluh kesah, dan cinta akan gugur begitu saja?. Hmm, kopi pahit ini membuat aku semakin yakin, bahwa aku sedang berada di waktu pagi. Hidup ini begitu cepat kurasa, tak sempat aku menginggat tiap luka dan duka tentang hal yang biasa disebut cinta. Pada penghujung pagi tak lupa kuucap segala doa untukmu, agar pagimu seindah pagiku. Ditemani secangkir kopi kesukaanmu, memandang indah sepasang kupu-kupu, tetes embun dari dedaunan yang berjatuhan di halaman rumahmu, juga segala dukamu adalah pengingat ucap syukurmu padaNya.

Sihir

Sepucuk melati berwarna coklat
berserak di kursi taman
depan halaman
dan kabar yang tak pernah sempat.

Tetapi kau sihir
Slalu dapat merubahku sepanjang waktu.
Kau juga terlalu mahir
merajut kata dan menjadikannya air mata.

Bila hujan reda, sekali lagi
biar bunga asoka atau sepatu
yang jatuh memenunhi.
dan tak kupanggili namamu berulang kali.


Jatinangor, 01 09 14

Aku Ingin Pulang

Aku rebah ditengah padang
dengan rerumputan panjang
penuh dengan ilalang.
Perlahan, surya menghilang.

Aku tak menghitung
berapa waktu yang
diperlukan.
untuk melupakan.

Mengapa tidak, rasanya indah
waktu kehilangan
sepotong senja.
Waktu melepas lelah.

Setiap Pukul Lima Pagi

Lima pagi
ada yang menaruh matahari
lebih dulu,
diatas lemari penuh debu.

Lima pagi
sudah seperti katamu.
Aku masih terjaga,
berjaga-jaga siapa tau kau tiba.

Kuambil secangkir waktu
menaruhnya tepat diruang tamu
agar aku selalu tahu,
kau tak akan datang tepat waktu.

Pukul lima pintamu,
agar kubukakan pintu
tapi aku,
lupa. Apakah kita masih seperti itu.

Jatinangor, 20 Juli

Bonjour* (Balasan)

II

Msuim panas tak sabar mengucap salamnya
Sayang, semi belum juga mau pulang ke alamnya.
Paris masih dingin dan berangin kadang
Kota ini memang kota cinta,
penuh kejutan dan tidak bisa ditebak
bahkan cuacapun sulit diperkirakan
semenit hujan, semenit kemudian matahari mengucap salam

langit diluar masih terang seperti siang
padahal sudah jam 7 malam
dan seperti yang ingin kau dengar,
saya baik-baik saja

perjalanan menuntun saya,
pengalaman mengajari saya
bertemu dengan berbagai orang membuat saya memaknai
hidup lebih dalam
sampai pada akhirnya, saya menemukan diri saya.

Salam dari Paris untukmu yang membaca,
Dan untuk Indonesiaku juga,
Bagaimana kabar kalian?

Paris, 15-06-14